SANKSI RUSIA

SANKSI RUSIA смотреть последние обновления за сегодня на .

Rusia Tak Sudi Gabung Lagi ke Dewan Eropa, Sebut Fungsinya Melenceng dari Tujuan Persatuan Eropa

103365
888
270
00:03:36
03.02.2023

#beritaterbaru #beritaterkini #beritaviral #live #breakingnews #rusia #vladimirputin #dewaneropa TRIBUN-VIDEO.COM - Rusia tegas tidak akan bergabung lagi ke Dewan Eropa. Hal ini karena dewan tersebut sudah melenceng jauh dari fungsinya sebagai promotor persatuan kawasan Eropa. Terlebih Dewan Eropa turut memperkeruh konflik di Ukraina. Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Alexander Grushko memberikan penjelasan. Ia mengingatkan, tujuan pembentukan Dewan Eropa adalah untuk mencapai persatuan yang lebih besar dari negara-negara Eropa. Namun, pada realitanya, Barat sudah berjalan berlawanan dari tujuannya. Menurut Grusko, oleh karenanya sangat tidak masuk akal jika Rusia kembali ke Dewan Eropa. Dikatakan, Dewan Eropa telah secara efektif kehilangan sifat multifasetnya. Dewan tersebut berubah menjadi organisasi pemaksaan agresif pendekatan neoliberal terhadap hak asasi manusia. Hal ini disebutkan jelas melanggar prinsip dan nilai yang diabadikan dalam piagam dan konvensi dasarnya. Rusia tidak menyesal keluar dari Dewan Eropa. Moskwa menilai keluarnya dari kelompok tersebut tidak akan mempengaruhi hak dan kebebasan warga negara Rusia. Diketahui, Rusia meninggalkan Dewan Eropa pada Maret 2022. Putin menunjuk Wakil Menteri Luar Negeri Alexander Grushko sebagai perwakilan resminya untuk sidang parlemen Rusia. Hal ini tentang penghentian perjanjian internasional Dewan Eropa sehubungan dengan Rusia. Sebagaimana diketahui, selain itu, Dewan Eropa telah mendukung Ukraina melawan Rusia. Dewan tersebut juga mengecam Rusia. Bahkan menjatuhkan sanksi ke Rusia sembari memasok bantuan militer ke Ukraina. Namun, beberapa waktu lalu, Dewan Eropa secara mengejutkan mengakui kesulitan menjatuhkan sanksi ke Rusia. Padahal sebelumnya Uni Eropa terus memberikan paket sanksi ke Rusia bertubi-tubi. Hal ini disampaikan oleh Presiden Dewan Eropa, Charles Michel. Ia mengaku kesulitan menerapkan sanksi ke Rusia daripada sebelumnya. Diakuinya, keluhan itu dibahas setiap diskusi tentang sanksi terhadap Federasi Rusia belakangan ini. Kini Uni Eropa akan terus mempertimbangkan babak baru sanksi anti-Rusia. Sebelumnya, Presiden Dewan Eropa, Charles Michel berkunjung ke Kyiv, Ukraina. Di sana, ia bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy , Perdana Menteri Ukraina Denys Shmyhal dan anggota Parlemen Ukraina. Mereka membahas kerja sama Uni Eropa-Ukraina dalam konteks perang agresi Rusia yang diluncurkan pada Februari tahun lalu. Dalam pidatonya, Michel menuturkan, tidak akan ada Eropa yang bebas tanpa Ukraina yang bebas. Sejak pecahnya perang Rusia di Ukraina, Uni Eropa dengan tegas mendukung Ukraina. Dukungan itu diwujudkan dengan memberikan tingkat dukungan ekonomi, militer, dan kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sebagaimana diketahui, Presiden Komisi Eropa, Ursula Von der Leyen mengumumkan rencana untuk memberlakukan paket sanksi kesepuluh terhadap Rusia. Paket sanski itu berfokus pada penutupan celah dalam tindakan yang telah diambil. (Tribun-Video.com/ tass.com) Artikel ini telah tayang di tass.com dengan judul Russia has no plans of returning to Council of Europe — deputy foreign minister 🤍 HOST: BIMA MAULANA VP: YOGI PUTRA

Uni Eropa Siapkan Sanksi Baru Untuk Rusia

11252
115
114
00:00:59
03.02.2023

Uni Eropa berencana menghajar Rusia dengan sanksi baru menjelang peringatan serangan Moskow ke Ukraina. Informasi selengkapnya dalam program Squawk Box CNBC Indonesia (Jumat, 03/02/2023) berikut ini. Terus ikuti berita ekonomi bisnis dan analisis mendalam hanya di 🤍 CNBC Indonesia terafiliasi dengan CNBC Internasional dan beroperasi di bawah grup Transmedia dan tergabung bersama Trans TV, Trans7, Detikcom, Transvision, CNN Indonesia dan CNN Indonesia.com. CNBC Indonesia dapat dinikmati melalui tayangan Transvision channel 805 atau streaming melalui aplikasi CNBC Indonesia yang dapat di download di playstore atau iOS. Follow us on social: Twitter: 🤍 Facebook Page: 🤍 Instagram: 🤍 🤍 Tiktok: 🤍 Spotify: 🤍

Iran Perkuat Kerja Sama dengan Rusia Hadapi Sanksi Amerika Serikat

48437
720
218
00:02:08
26.01.2023

Tonton video lainnya di 🤍 KOMPAS.com - Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf pada Senin (23/1) menyerukan perluasan kerja sama dengan Rusia, di saat kedua negara menghadapi sanksi Amerika Serikat (AS) yang "kejam", seperti dilaporkan Kantor Berita Pelajar Iran. Pernyataan tersebut disampaikan Qalibaf dalam sebuah konferensi pers gabungan di Teheran dengan Ketua Duma Negara Rusia Vyacheslav Volodin yang sedang berkunjung. Setelah pertemuan ketiga Komisi Parlementer Gabungan Tertinggi Iran dan Rusia, Qalibaf dalam konferensi pers itu mengatakan bahwa sanksi AS yang "kejam" merupakan ancaman terbesar bagi Iran, Rusia, dan beberapa negara lain. Penulis Naskah: Anneke Sherina Ramadhani Narator: Anneke Sherina Ramadhani Video Editor: Adimas Nugroho Produser: Deta Putri Setyanto #Iran #Rusia #AmerikaSerikat #JernihkanHarapan Music: RETRO Xcape Lahar Vlog No Copyright Music

Rusia Terancam dengan Tank Jerman hingga Rencana Sanksi Baru dari Uni Eropa

8439
84
62
00:05:09
03.02.2023

Invasi Rusia ke Ukraina telah memasuki hari ke-344 pada Kamis (2/2/2023). Konflik ini berlanjut dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan, pada tahun ini negaranya sudah layak untuk memulai negosiasi untuk bergabung ke Uni Eropa. Menurut Zelensky, integrasi lebih lanjut dengan blok Eropa akan menginspirasi Ukraina sekaligus memberikan motivasi untuk berperang melawan Rusia. Kemudian, Presiden Rusia Vladimir Putin mengaku Rusia merasa terancam dengan adanya tank Jerman yang digunakan selama Perang Dunia II. Putin juga memperingatkan Rusia siap menanggapi agresi Barat tak hanya menggunakan tank maupun kendaraan lapis baja. Kami tidak mengirim tank ke perbatasan mereka tetapi kami memiliki sesuatu untuk menanggapi, dan itu tidak hanya tentang menggunakan kendaraan lapis baja, kata Putin. Simak selengkapnya dalam video berikut. Penulis: Irawan Sapto Adhi Penulis Naskah: Michaela Winda Saputra Narator: Michaela Winda Saputra Video Editor: Abdul Azis Produser: Rose Komala Dewi Musik: Final Boss - Myuu #JernihkanHarapan #InvasiRusia #Ukraina #Rusia

Kena Banyak Sanksi, Rusia Malah TAMBAH KAYA?

632499
32186
568
00:00:41
17.04.2022

Kira" bakal ada strategi ekonomi apa lagi dari Rusia? #Shorts #RaymondChin #Rusia #Economicsofwar

Dewan Eropa Akui Makin Sulit Jatuhkan Sanksi ke Rusia, Kini Pikir-pikir Dulu Buat Babak Baru

242342
1986
850
00:04:22
20.01.2023

TRIBUN-VIDEO.COM - Dewan Eropa secara mengejutkan mengakui kesulitan menjatuhkan sanksi ke Rusia. Padahal sebelumnya Uni Eropa terus memberikan paket sanksi ke Rusia bertubi-tubi. Hal ini disampaikan oleh Presiden Dewan Eropa, Charles Michel. Ia mengaku kesulitan menerapkan sanksi ke Rusia daripada sebelumnya. Diakuinya, keluhan itu dibahas setiap diskusi tentang sanksi terhadap Federasi Rusia belakangan ini. Kini Uni Eropa akan terus mempertimbangkan babak baru sanksi anti-Rusia. Sebelumnya, Presiden Dewan Eropa, Charles Michel berkunjung ke Kyiv, Ukraina. Di sana, ia bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy , Perdana Menteri Ukraina Denys Shmyhal dan anggota Parlemen Ukraina. Mereka membahas kerja sama Uni Eropa-Ukraina dalam konteks perang agresi Rusia yang diluncurkan pada Februari tahun lalu. Dalam pidatonya, Michel menuturkan, tidak akan ada Eropa yang bebas tanpa Ukraina yang bebas. Sejak pecahnya perang Rusia di Ukraina, Uni Eropa dengan tegas mendukung Ukraina. Dukungan itu diwujudkan dengan memberikan tingkat dukungan ekonomi, militer, dan kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sebagaimana diketahui, Presiden Komisi Eropa, Ursula Von der Leyen mengumumkan rencana untuk memberlakukan paket sanksi kesepuluh terhadap Rusia. Paket sanski itu berfokus pada penutupan celah dalam tindakan yang telah diambil. Sementara itu, diplomat Polandia dan Lituania mengungkapkan, paket kesepuluh sanksi Uni Eropa terhadap Rusia itu akan siap pada akhir Februari. Seperti informasi sebelumnya, tujuan Barat menjatuhkan sanksi untuk menekan Rusia agar menghentikan operasi khususnya ke Ukraina. Uni Eropa telah memberlakukan sembilan paket sanksi, yang terakhir disetujui pada 16 Desember tahun lalu. Namun, sanksi itu justru menjadi bumerang bagi Barat. Pembatasan bagaimanapun, tetap berdampak menyebabkan harga energi dan biaya hidup melonjak di Eropa. Hal ini memicu banyak protes di seluruh Eropa selama setahun terakhir. Barat selama ini bergantung pada Rusia terkait gas dan minyak. Sebagaimana informasi sebelumnya, Presiden Rusia, Vladimir Putin kembali menegaskan bahwa tujuannya di Ukraina sudah bertekad bulat. Ia mengaku tak akan menyerah meskipun ditekan pihak asing. Hal itu disampaikan Putin dalam pertemuan dengan tentara distrik militer selatan pada malam tahun baru 2023. Presiden Putin menjelaskan, pasukannya berkemajuan dalam perang dengan penuh hati-hati dan tenang. Ia menjanjikan kemenangan atas "neo-Nazi" Ukraina dan Barat yang dituding bermaksud menghancurkan Rusia. Kepala Negara Rusia juga mengeklaim bahwa Barat memberikan segalanya untuk memanfaatkan Ukraina sebagai alat untuk merusak kedaulatan Rusia. Bahkan, Putin menyebut Barat sebagai pihak munafik soal perdamaian. “Barat berbohong tentang perdamaian. Itu sedang mempersiapkan agresi dan sekarang mereka secara sinis memanfaatkan Ukraina dan rakyatnya untuk melemahkan dan memecah belah Rusia,” kata Putin. “Kita tidak pernah mengizinkan ini, dan tidak akan pernah membiarkan siapa pun melakukan ini kepada kita,” ucap Putin. Putin menuduh Barat berbohong kepada Rusia soal perdamaian. Ia mengatakan Barat telah memprovokasi Rusia untuk meluncurkan 'operasi militer khusus' di Ukraina. "Selama bertahun-tahun, elit Barat dengan munafik meyakinkan kami tentang niat damai mereka," katanya dalam pidato di depan militer Rusia. Putin membongkar fakta bahwa Barat mendorong neo-Nazi untuk melakukan terorisme terbuka terhadap warga sipil di Donbas. "Faktanya, dengan segala cara mereka mendorong neo-Nazi yang melakukan terorisme terbuka terhadap warga sipil di Donbas," tambahnya. (Tribun-Video.com/ Ria.ru) Artikel ini telah tayang di Ria.ru dengan judul "Глава Евросовета заявил о сложностях с принятием антироссийских санкций", Klik untuk baca: 🤍 HOST: BIMA MAULANA VP: IKA VIDYA LESTARI #beritaterbaru #beritaterkini #beritaviral #live #breakingnews #ukraina #rusia #rusiavsukrainahariini #russia #ukraine #russiavsukraine #putin #zelenskiy #zelensky

Sanksi Dunia Bagi Rusia

83829
648
619
00:01:33
26.02.2022

Negara-negara dunia kompak memberikan sanksi ekonomi bagi Rusia atas invasi yang dilakukan ke ukraina. Komisi Eropa menyebut akan memblokir seluruh akses ekonomi Rusia termasuk bank, sementara negara lain memberikan sanksi kepada pengusaha asal Rusia termasuk anggota parlemen Rusia. Berikut daftar konsekuensi sanksi yang harus diterima rusia dari dunia.

Terungkap Pebisnis di Rusia Nyatanya Masih Ampuh meski Dipukul Sanksi Barat, Usaha Tetap Aktif

29510
338
98
00:05:02
21.01.2023

TRIBUN-VIDEO.COM - Meskipun dihajar sanksi Barat, namun nyatanya pebisnis di Rusia masih tetap aktif menjalankan usahanya. Bahkan menurut survei ribuan perusahaan mereka terus berdiri. Sebuah survei yang dilakukan lembaga penelitian Swiss mengungkap fakta keberadaan bisnis Rusia. Diungkapkan bahwa ribuan perusahaan yang berbasis di Uni Eropa dan negara-negara G7  masih aktif beroperasi di Rusia. Perusahaan-perusahaan tersebut masih menjalankan bisnis seperti biasa. Bahkan, meski negara-negara Barat terus menekan Rusia lewat sanksi ekonomi yang ketat. Hal ini terjadi pasca invasi Rusia ke Ukraina Februari tahun lalu. Para peneliti Swiss Niccolo Pisani dan Simon Evenett, yang berasal dari University of St. Gallen serta institut IMD menjelaskan bahwa sanksi ekonomi dari Barat tak mempan. Bahkan disebutkan sanksi itu tidak terlalu masif memukul perusahan – perusahaan besar dari Rusia. Dari 1.404 perusahaan Uni Eropa dan 2.405  anak perusahaan G7, lembaga survei itu mencatat bahwa hanya ada 8,5 persen atau sekitar 120 perusahaan yang memberlakukan aturan untuk hengkang dari Rusia. Hal ini selama sanksi diterapkan tepatnya mulai Maret tahun lalu. Kondisi serupa juga terjadi pada perusahaan asal Jepang yang berbasis di Moskow. Dalam beberapa bulan terakhir tercatat hanya ada 15 persen perusahaan yang melakukan divestasi dari Rusia. Sementara anak perusahaan Jerman yang meninggalkan Rusia hanya 19,5 persen. Sementara sebanyak 12,4 persen lainnya berasal dari perusahaan AS.   Dalam setahun terakhir pendapatan perusahaan sekutu yang bekerja di Rusia hanya susut 6,5 persen. Hal ini berbanding terbalik dengan laba yang dapat diraup pemerintah Rusia. Dimana dalam beberapa bulan Rusia bisa membukukan keuntungan bagi pemerintah Moskow sebesar 15,3 persen. Hal ini mematahkan narasi Barat yang selama ini menggembar – gemborkan adanya berita terkait eksodus besar-besaran perusahaan Barat yang meninggalkan pasar Rusia.  "Temuan data terkait penurunan yang sangat terbatas dari perusahaan Uni Eropa dan G7 dari Rusia, sangat menantang narasi bahwa ada eksodus besar-besaran yang dilakukan perusahaan Barat," ujar juru bicara Universitas St. Gallen dalam sebuah pernyataan hari Kamis (19/1/2023). Diketahui, sebagian besar perusahaan yang memilih untuk mundur dari Rusia merupakan perusahaan yang memiliki profit yang lebih rendah dibandingkan tenaga kerja. Studi penelitian ini juga menunjukkan bahwa eksistensi Rusia masih kuat bagi perusahaan- perusahaan global. Hal tersebut membuat sanksi ekonomi dan politik sulit memisahkan perusahaan Barat untuk hengkang dari Rusia meski diselimuti pengetatan saknsi. Sebelumnya, Dewan Eropa secara mengejutkan mengakui kesulitan menjatuhkan sanksi ke Rusia. Padahal sebelumnya Uni Eropa terus memberikan paket sanksi ke Rusia bertubi-tubi. Hal ini disampaikan oleh Presiden  Dewan Eropa, Charles Michel. Ia mengaku kesulitan menerapkan sanksi ke Rusia daripada sebelumnya. Diakuinya, keluhan itu dibahas setiap diskusi tentang sanksi terhadap Federasi Rusia belakangan ini. Kini Uni Eropa akan terus mempertimbangkan babak baru sanksi anti-Rusia. Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin mengungkapkan ekonomi negaranya masih stabil, aman dan terkendali. Bahkan, ia menegaskan situasi ekonomi Rusia lebih baik dari perkiraan Barat. Kepala Negara Rusia dengan tenang membeberkan ekonomi Rusia yang masih baik. Ia mengklaim semua indikator ekonomi utama menunjukkan stabilisasi yang berkelanjutan. Diungkapkan salah satu indikatornya adalah tingkap pengangguran. ' Presiden Putin menjelaskan, pengangguran di Rusia berada di titik terendah sepanjang sejarah. Selain itu, orang nomor satu di Rusia itu juga menerangkan, inflasi negara lebih rendah dari yang diperkirakan dan menunjukkan tren menurun. Ia mencatatkan, inflasi Rusia diperkirakan melambat dari 11,9 persen pada 2022 menjadi sekitar 5 persen pada kuartal pertama tahun ini. Putin juga membeberkan, produksi industri, pertanian dan konstruksi. Menurutnya, secara keseluruhan, situasi ekonomi Rusia bukan hanya stabil, tapi cukup memuaskan. Sebelumnya, inflasi tahunan di Rusia pada 2022 muncul lebih rendah dari perkiraan sebelumnya. Baik Bank Sentral maupun Kementerian Pembangunan Ekonomi negara itu memperkirakan indikator melampaui angka 12 persen. Harga konsumen melonjak pada paruh pertama tahun lalu. Hal ini setelah dimulainya krisis Ukraina dan diikuti sanksi anti-Rusia Barat. Inflasi kemudian memuncak pada April sebesar 17,83 persen. (Tribun-Video.com/ Tribunnews.com) Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Pebisnis di Rusia Tak Mempan Dihajar Sanksi Barat, Survei: Ribuan Perusahaan Aktif Beroperasi, 🤍 Penulis: Namira Yunia Lestanti Editor: Choirul Arifin HOST: BIMA MAULANA VP: YOHANES ANTON #beritaterbaru #beritaterkini #beritaviral #live #breakingnews

Jepang Jatuhkan Sanksi ke Rusia, Kini Makin Luas, Tak Hanya Ekspor Barang tapi Organisasi Terkena

34243
363
456
00:03:13
27.09.2022

TRIBUN-VIDEO.COM - Pemerintah Jepang telah menyetujui paket sanksi baru yang dijatuhkan kepada Rusia pada Senin (26/9/2022). Hal ini sebagai respons tegas Jepang atas tindakan Rusia yang menginvasi wilayah Ukraina sejak Februari lalu. Dalam sanksi ini, Tokyo melarang 21 organisasi yang terkait dengan industri pertahanan. Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang juga melarang ekspor barang-barang yang berhubungan dengan senjata kimia. Sementara itu, ada organisasi yang dijatuhi sanksi. Di antaranay, perusahaan Moselektronproyekt, asosiasi penelitian dan produksi Etalon, dan perusahaan Energia. Selain itu, Institut Alikhanov untuk Fisika Teori dan Eksperimental dari Institut Riset Nasional Kurchatov Institute. Sanksi baru akan berlaku pada 3 Oktober 2022 mendatang. Tindakan Jepang ini senada dengan sekutu Barat. Amerika Serikat (AS) dan sekutunya akan bertindak tegas jika Rusia benar-benar bertindak. Gedung Putih telah mengancam akan ada 'konsekuensi bencana' jika Rusia nekat menggunakan senjata nuklir di Ukraina. Hal ini disampaikan oleh Penasihat Keamanan Nasional Amerika Serikat, Jake Sullivan pada Minggu (26/9/2022). Dikatakan, AS akan menanggapi dengan tegas setiap penggunaan senjata nuklir Rusia terhadap Ukraina. Rusia akan menemui bencana besar jika Rusia nekat menyerang dengan nuklir. Ia menuturkan Rusia kelewatan batas. Diketahui, peringatan baru dari Amerika Serikat muncul karena pernyataan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Rabu (21/9/2022) lalu. Saat itu, Putin mengatakan bahwa negaranya akan menggunakan senjata apa pun untuk mempertahankan wilayahnya. (Tribun-Video.com/ Tribunnews.com) 🤍 Host: Bima Maulana VIdeo Editor: Sigit Setiawan

Taktik Rusia Tangkis Sanksi Barat Berhasil, Penjualan Pupuk Bukannya Turun Malah Melonjak Drastis

55531
473
184
00:03:34
16.01.2023

BACA SELENGKAPNYA 🤍 TRIBUN-VIDEO.COM - Sanksi yang dijatuhkan Barat dapat ditangkis oleh Rusia. Hal ini dibuktikan dengan melonjaknya penjualan pupuk Moskow sebanyak 70 persen pada 2022. Berkat melonjaknya penjualan ini, Rusia meraup keuntungan hingga ratusan triliun. Host: Tini Afshin VP: Nunki Armada Laksana #beritaterbaru #beritaterkini #beritaviral #live #breakingnews

Meski Dihantam Sanksi Barat, Ekonomi Rusia Diprediksi akan Jauh Ungguli Amerika Serikat pada 2024

5682
88
15
00:03:07
01.02.2023

BACA SELENGKAPNYA 🤍 TRIBUN-VIDEO.COM - Ekonomi Rusia diperkirakan tumbuh lebih cepat daripada Amerika Serikat (AS) pada 2024. Prediksi itu disampaikan langsung oleh Dana Moneter Internasional (IMF), Selasa (31/1). Host: Agung Laksono VP: Yudi Irwansyah #russia #ukraina #usa #beritaterbaru #beritaterkini #beritaviral #live #breakingnews

Uni Eropa Ingin Sanksi Lebih Keras untuk Rusia

11787
123
235
00:02:31
29.09.2022

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mendesak 27 negara anggota Uni Eropa untuk menjatuhkan lebih banyak sanksi kepada pejabat Rusia. Ia menargetkan para pejabat yang bertanggung jawab atas apa yang ia kecam sebagai referendum palsu yang diselenggarakan di bagian-bagian Ukraina yang dikuasai Rusia. Menurut pejabat pemilihan yang didirikan Rusia, 93 persen surat suara diberikan di wilayah Zaporizhzhia mendukung pencaplokan, hal ini senada dengan perolehan suara di wilayah Kherson yakni 87 persen, 98 persen wilayah Luhansk dan 99 persen di Donetsk. Penulis Naskah: Novyana Nurmita Dewi Narator: Novyana Nurmita Dewi Video Editor: Irsyad Renaldi Produser: Deta Putri Setyanto #UniEropa #SanksiRusia #JernihkanHarapan Music: Brooklyn and the Bridge - Nico Staf

Ekonomi Ambruk, Sanksi ke Rusia Jadi Bumerang Bagi Uni Eropa Cs?

29841
237
90
00:11:35
11.01.2023

Hore, Harga Tiket Pesawat Turun! JKT-Bali Cuma Rp700 Ribuan 🤍 Pasca terjadinya perang Ukraina-Rusia, kini giliran Uni Eropa (UE) yang mengalami krisis energi. Menanggapi perang di Ukraina, blok tersebut berjanji untuk segera melepaskan diri dari ketergantungan pada bahan bakar fosil Rusia. Namun, meskipun tidak menjatuhkan sanksi pada gas Rusia, EU kesulitan menemukan pasokan alternatif ketika Moskow mematikan pipa Nord Stream 1 untuk membalas sanksi dari mereka. Moskow sendiri memasok sekitar 40% gas alam blok itu pada tahun 2021, menurut Komisi Eropa.  Lalu apakah memang sanksi ke Rusia menjadi pil pahit yang menekan perekonomian negara-negara Uni Eropa? Saksikan ulasan selengkapnya wawancara Andi Shalini bersama Wakil Presiden Eksekutif komisi Uni eropa, Valdis Dombrovskis dalam program Prime Words CNBC Indonesia. Terus ikuti berita ekonomi bisnis dan analisis mendalam hanya di 🤍 CNBC Indonesia terafiliasi dengan CNBC Internasional dan beroperasi di bawah grup Transmedia dan tergabung bersama Trans TV, Trans7, Detikcom, Transvision, CNN Indonesia dan CNN Indonesia.com. CNBC Indonesia dapat dinikmati melalui tayangan Transvision channel 805 atau streaming melalui aplikasi CNBC Indonesia yang dapat di download di playstore atau iOS. Follow us on social: Twitter: 🤍 Facebook Page: 🤍 Instagram: 🤍 🤍 Tiktok: 🤍 Spotify: 🤍

Putin Sindir Sanksi Barat terhadap Rusia Gila dan Sembrono

113244
1142
433
00:02:27
18.06.2022

Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan, bahwa tindakan barat atas sanksinya yang dijatuhkan terhadap Rusia, dianggap gila dan sembrono. Putin mengatakan serangan ekonomi yang dilakukan negara-negara barat untuk Rusia, tidak akan berpeluang berhasil. Putin juga mengklaim, Uni Eropa dapat kehilangan 400 milliar dollar AS karena sanksi yang dijatuhkan terhadap Rusia. Namun berbeda halnya dengan pendapat Pejabat Rusia yang mengatakan bahwa Rusia ekonomi Rusia sedang diambang serius akibat sanksi yang terjadi. Simak selengkapnya dalam video berikut. Penulis : Danur Lambang Pristiandar Penulis Naskah: Hanindiya Dwi Lestari Narator : Hanindiya Dwi Lestari Video Editor: Hanindiya Dwi Lestari Produser: Yusuf Reza Permadi #RusiaUkraina #VladimirPutin #JernihkanHarapan #Kompascom

Demi Pasokan Pangan, Uni Eropa Perlunak Sanksi ke Rusia

171955
1382
760
00:02:40
20.07.2022

Uni Eropa pada Rabu 20 juli 2022 akan memperlunak sanksi terhadap Moskwa. Sebuah rancangan dokumen menyebut pelonggaran sanksi tersebut dengan menghentikan pembekuan dana sejumlah bank Rusia. Langkah itu diperlukan untuk melonggarkan hambatan, pada perdagangan pangan dan pupuk global. Perubahan aturan sanksi itu dilakukan di tengah kritik yang dilemparkan kalangan pemimpin negara-negara Afrika, terkait dampak negatif sanksi di sektor perdagangan. Namun Sejauh ini pihak Uni Eropa membantah anggapan yang menyebut sanksi-sanksi yang diterapkannya menimbulkan dampak negatif pada perdagangan pangan. Simak selengkapnya dalam video berikut. Penulis Naskah: Meiva Jufarani Narator: Meiva Jufarani Video Editor: Menika Ambar Sari Produser: Yusuf Reza Permadi #UniEropa #Rusia #JernihkanHarapan #Kompascom Music : Jungle - Aakash Gandhi

Rusia Digempur Sanksi Lagi, Jepang Larang Ekspor Semua Produk Teknologi Canggih ke Moskwa

19916
166
229
00:03:48
27.01.2023

#beritaterbaru #beritaterkini #beritaviral #live #breakingnews #rusia #mokswa #jepang #ekspor TRIBUN-VIDEO.COM - Rusia kembali dijatuhi sanksi dari Jepang. Kali ini Jepang melarang semua ekspor produk perangkat berteknologi canggih ke Moskwa. Hal tersebut sebagai respons tegas Jepang terhadap aksi Rusia ke Ukraina. Sebagaimana diketahui Jepang bersama sekutu Barat mengecam keras operasi khusus militer Rusia ke Ukraina. Jepang juga memberikan sanksi kepada Rusia. Terkini Jepang menambah sanksi ke Rusia. Sanksi tersebut berupa pelarangan ekspor perangkat teknologi canggih ke Rusia. Adapun daftar sanksi ekspor tersebut sudah dirilis Jepang. Di antaranya larangan ekspor untuk peralatan eksplorasi gas, komponen semikonduktor, senjata meriam air, bahan peledak hingga sistem. Selain itu, sanksi pelarangan ekspor juga ditujukan pada produk kesehatan yang mencakup peralatan pemeriksaan sinar-X dan vaksin. Kementerian Ekonomi Perdagangan dan Industri Jepang menerangkan, penerapan sanksi pelarangan ekspor sejalan dengan negara-negara besar lainnya. Hal ini sebagai upaya mengamankan perdamaian di tengah perang di Ukraina yang semakin memanas. “Mengingat situasi seputar Ukraina kian memanas Jepang akan berupaya untuk mengamankan perdamaian dengan menerapkan larangan ekspor sejalan dengan negara-negara besar lainnya,” kata Kementerian Ekonomi Perdagangan dan Industri Jepang dalam rilisnya, Jumat (27/1/2023). Tak hanya membatasi perdagangan ekspor, Jepang juga membekukan sejumlah aset entitas besar asal Moskow. Di antaranya adalah perusahaan pesawat JSC Irkut Corp dan pembuat rudal darat-ke-udara MMZ Avangard. Tak hanya itu, Jepang juga memblokir aset milik 22 pejabat berpengaruh di Rusia. Seperti wakil menteri pertahanan Mikhail Mizintsev, menteri kehakiman Konstantin Chuychenko, dan 14 individu pro-Moskow yang bergabung dalam aneksasi Ukraina. Semua sanksi baru Jepang atas Rusia mulai berlaku 3 Februari 2023. Sebelum menjatuhkan sanksi ini, Jepang diketahui telah berulang kali melayangkan embargo dan pembekuan ekspor di sektor perekonomian. Lewat sejumlah sanksi baru ini, Jepang berharap kekuatan militer Rusia sedikit melemah dan goyah. Sehingga moment tersebut dapat dimanfaatkan Ukraina untuk membalaskan serangan balik. Kendati demikian, hal tersebut belum cukup mampu menghentikan invasi yang dilakukan Rusia. Sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin mengungkapkan ekonomi negaranya masih stabil, aman dan terkendali. Bahkan, ia menegaskan situasi ekonomi Rusia lebih baik dari perkiraan Barat. Kepala Negara Rusia dengan tenang membeberkan ekonomi Rusia yang masih baik. Ia mengklaim semua indikator ekonomi utama menunjukkan stabilisasi yang berkelanjutan. Diungkapkan salah satu indikatornya adalah tingkap pengangguran. Presiden Putin menjelaskan, pengangguran di Rusia berada di titik terendah sepanjang sejarah. Selain itu, orang nomor satu di Rusia itu juga menerangkan, inflasi negara lebih rendah dari yang diperkirakan dan menunjukkan tren menurun. Ia mencatatkan, inflasi Rusia diperkirakan melambat dari 11,9 persen pada 2022 menjadi sekitar 5 persen pada kuartal pertama tahun ini. Putin juga membeberkan, produksi industri, pertanian dan konstruksi. Menurutnya, secara keseluruhan, situasi ekonomi Rusia bukan hanya stabil, tapi cukup memuaskan. (Tribun-Video.com/ Tribunnews.com) Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Jepang Larang Ekspor Chipset Hingga Robot ke Rusia, 🤍 Penulis: Namira Yunia Lestanti Editor: Choirul Arifin HOST: BIMA MAULANA VP: YOGI PUTRA

Mesranya Turki dan Rusia, Dilandasi Kejujuran dan Kepercayaan meskipun Diancam Negara Lain

156224
1674
387
00:03:36
30.01.2023

TRIBUN-VIDEO.COM - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menggambarkan hubungan diplomatik dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dilandasi dengan kejujuran dan kepercayaan. Meskupun kemesraan Rusia dan Turki diancam negara lain. Menurut presiden Turki, ada banyak ancaman dari negara lain sehubungan dengan pembelian sistem S-400 [Rusia]. Tapi ia tetap dan sudah membeli S-400. Sehingga Turki punya senjata itu. Dalam konteks ini, ia menyinggung topik kemungkinan pasokan jet tempur F-16 dan F-35. Turki ingin membeli F-16 dari AS. Tapi AS menolak pembelian itu. Selanjutnya Erdogan menyebut AS menjanjikan Jet F, tetapi sampai sekarang janji hanyalah janji dan AS melanggar janjinya. Selain itu, Turki ingin memiliki 40 jet tempur F-16 Block 70 dan kit untuk modernisasi pesawat yang sudah dimilikinya. Isu itu dibekukan setelah Ankara membeli sistem pertahanan udara S-400 Rusia. Kesepakatan itu juga menangguhkan partisipasi Turki dalam proyek pengembangan dan produksi jet tempur F-35. Penentang kesepakatan F-16 dengan Turki di Kongres AS memotivasi penolakan oleh perlawanan Ankara untuk mengizinkan Helsinki dan Stockholm diterima di NATO dan hubungannya dengan Moskow. Turki, pada gilirannya, mengatakan menolak persyaratan apa pun untuk implementasi kesepakatan yang diajukan oleh pihak AS. Sebelumnya, Presiden Turki Tayyip Erdogan menyatakan pihaknya tak akan memberi sanksi pada Rusia imbas konflik dengan Ukraina. Erdogan mengatakan, dirinya mempertimbangkan hubungannya dengan Rusia. Erdogan mengaku tak dapat mengesampingkan hubungan Turki dengan Rusia. Pasalnya, selama ini Turki bergantung dengan gas alam dari negara yang dipimpin Vladimir Putin itu. “Dalam hal sanksi, kami sedang mempelajari pedoman tertentu PBB, tetapi jangan lupa bahwa kami tidak dapat mengesampingkan hubungan kami dengan Rusia," ungkap Erdogan di hadapan awak media. "Anda tahu, saya sudah menjelaskan ini sejak lama, karena hari ini, jika kami mengambil gas alam saja, sekitar setengahnya. gas alam yang kami gunakan berasal dari Rusia." Saat ini, Turki juga sedang membangun pembangkit listrik tenaga nuklir Akkuyu yang juga bekerja sama dengan Rusia. Erdogan mengaku dirinya sudah menyampaikan kondisi ini kepada Presiden Perancis Emmanuell Macron. Dirinya tak ingin, dengan pemberian sanksi tersebut malah berdampak buruk pada warganya yang kedinginan. "Pertama, saya tidak bisa membiarkan orang-orang saya membeku di musim dingin, dan kedua, saya tidak bisa sepenuhnya menghidupkan kembali industri kita ini," kata Erdogan seperti dikutip surat kabar Hurriyet, Jumat. Erdogan menyatakan dirinya sebagai otoritas dalam negaranya wajib untuk melindungi warganya. Meski begitu, Turki sudah mengirimkan sebanyak 56 truk bantuan kemanusiaan berisi logistik ke Ukraina. Sebelumnya, Turki sudah berulang kali menegaskan sikapnya terhadap Rusia imbas invasi ke Ukraina. Meski sudah sering didesak pihak Barat untuk segera menjatuhkan sanksi terhadap Rusia, Erdogan tetap pada keputusannya. Erdogan tak ingin merusak perekonomian negaranya sendiri dan lebih memilih melakukan dialog dengan Rusia. (Tribun-Video.com/ tass.com) Artikel ini telah tayang di tass.com dengan judul Erdogan describes his relations with Putin as honest and trust-based 🤍 HOST: BIMA MAULANA VP:AFIF ALFATTAH. #beritaterbaru #beritaterkini #beritaviral #live #breakingnews

Rusia Dibombardir Sanksi Ekonomi Pasca Operasi Militer ke Ukraina, Putin Tak Bergeming

794382
5153
2435
00:03:40
24.02.2022

RUSIA, KOMPAS.TV - Langkah Rusia mengirim pasukannya ke Donetsk dan Luhanks dilakukan, setelah Moskwa mengakui langkah kedua wilayah tersebut memproklamirkan kemerdekaan mereka dari Ukraina. Donetsk dan Luhank merupakan wilayah di timur Ukraina yang selama ini dikendalikan kelompok pemberontak pro-Rusia. Sekjen PBB Antonio Guterres angkat bicara atas insiden ini. Guterres mengaku sampai harus mempersingkat kunjungannya di Afrika. Oleh sejumlah negara, pengiriman pasukan rusia ke Donetsk dan Luhanks diartikan sebagai invasi Moskwa terhadap Ukraina. Baca Juga Rusia Serang Ukraina Bursa Saham Dunia Anjlok, Minyak Tembus hingga 100 Dollar AS Per Barrel di 🤍 Sanksi pun diberlakukan sejumlah negara, mulai dari Amerika Serikat, Uni Eropa, hingga Jepang dan Australia. Meski negara-negara barat menjatuhkan sanksi ekonomi, namun Presiden Vladimir Putin tak bergeming. Baginya kepentingan dan keamanan Rusia tak bisa dicampuri negara manapun. Ancaman perang lagi-lagi menjadikan warga sipil menjadi korban. Selain rumah-rumah yang hancur, warga kini harus mengungsi ke tempat pengungsian yang dianggap aman. Artikel ini bisa dilihat di : 🤍

Sanksi untuk Rusia Bikin Ekonomi Barat Merosot

101448
1237
366
00:01:46
19.04.2022

Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut negara-negara Barat telah mencetak gol bunuh diri dengan menjatuhkan sanksi kepada Rusia. Dilansir dari Reuters, Putin mengatakan pemberian sanksi itu telah menyebabkan kemerosotan ekonomi di Barat sendiri. Sementara itu, keadaan ekonomi domestik Rusia, Putin mengatakan inflasi stabil dan permintaan ritel di negara itu telah normal. Setelah sebelumnya diketahui negara-negara Barat diketahui telah memberlakukan sanksi berat terhadap Rusia atas invasinya ke Ukraina. Simak selengkapnya dalam video berikut. Penulis: Irawan Sapto Adhi Penulis Naskah: Meiva Jufarani Narator: Meiva Jufarani Video Editor: Meiva Jufarani Produser: Naufal Noorosa #Rusia #VladimirPutin #JernihkanHarapan

Uni Eropa Siapkan Paket Sanksi Kesembilan untuk Rusia

15329
134
336
00:01:38
25.11.2022

Tonton video lainnya di 🤍 Uni Eropa sedang mempersiapkan paket sanksi kesembilan terhadap Rusia. Sanksi tersebut merupakan bagian terbaru dari serentetan sanksi sebelumnya yang telah dijatuhkan Uni Eropa sebagai respons atas invasi Rusia ke Ukraina. Rencana sanksi terbaru tersebut disampaikan langsung oleh Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dalam kunjungannya ke Finlandia pada Kamis (24/11/2022). Simak selengkapnya dalam video berikut. Penulis: Danur Lambang Pristiandaru Penulis Naskah: Meiva Jufarani Narator: Meiva Jufarani Video Editor: Adimas Afif Nugroho Produser: Agung Wisnugroho Musik: Divider Chris Zabriskie #UniEropa #Rusia #Sanksi #JernihkanHarapan

Kena Sanksi Barat, Penjualan Mobil di Rusia Anjlok sampai 58,8 Persen, Produsen Hengkang dari Moskwa

7175
56
23
00:03:30
14.01.2023

TRIBUN-VIDEO.COM - Penjualan mobil di Rusia mengalami penurunan drastis hingga 58,8 persen pada 2022. Hal ini sebagai buntut pengenaan sanksi Barat kepada Rusia. Kepala Komite Asosiasi Bisnis Eropa (AEB), Alexey Kalitsev merilis pada Kamis (12/1/2023) merilis data penjualan mobil di Rusia. Diungkapkan, penjualan mobil di Moskwa sudah anjlok 58,8 persen. Alexey Kalitsev menerangkan, total penjualan mobil di Rusia pada tahun lalu mencapai 687.370 unit. Jumlah itu turun signifikan dibandingkan tahun 2021 sebanyak 1,6 juta unit yang terjual. “Total penjualan mobil di Rusia pada tahun lalu mencapai 687.370 unit, turun signifikan dibandingkan tahun 2021 sebanyak 1,6 juta unit yang terjual,” kata Alexey Kalitsev, kepala komite AEB. Beberapa pembuat mobil Rusia menangguhkan produksi untuk periode tahun lalu. Hal ini karena industri berjuang demi mendapatkan suku cadang dan membangun rantai pasokan baru. Kondisi itu terjadi menyusul pengenaan sanksi atas tindakan militer Moskow di Ukraina. "Pasar otomotif Rusia terpengaruh oleh sanksi Barat dan tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya, sehingga membuat produksi kendaraan di tahun lalu turun tajam,” kata Kalitsev Akibat sanksi tersebut, banyak produsen mobil Barat memilih untuk meninggalkan pasar otomotif Rusia. Sementara itu, Harga mobil di Rusia juga meningkat cukup signifikan di tahun lalu. Kalitsev mengungkapkan hal itu dilakukan untuk menekan rebound penjualan. Selain itu, penjualan ritel juga merosot di seluruh ekonomi Rusia pada 2022 di tengah resesi, ketidakstabilan harga dan meningkatnya ketidakpastian. Namun, Badan industri memperkirakan bahwa penjualan mobil di Rusia akan naik 12 persen pada tahun ini. Kenaikan itu diperkirakan akan menjadi sekitar 770.000 unit. Hal ini didorong oleh munculnya sejumlah mobil baru. "Dengan kombinasi keadaan yang menguntungkan, pertumbuhan di atas 12 persen juga dimungkinkan. Tetapi tidak ada seorang pun di dunia yang dapat memprediksi apa pun dalam situasi saat ini," kata badan industri itu. Sebelumnya, Perusahaan energi Gazprom, Rusia kali ini mengalami masalah karena sanksi Barat. Penjualannya mengalami anjlog ke level terendah sampai 44 persen. Sebagaimana diketahui, susutnya pasokan ekspor Gazprom terjadi imbas pemangkasan pasokan gas yang dilakukan para pemimpin Uni Eropa (UE) pada akhir Mei lalu. Lewat sanksi tersebut, 27 negara di kawasan UE memutuskan untuk mengurangi pembelian gasnya pada perusahaan Gazprom sebanyak dua per tiga dari total impor. Embargo gas disahkan sebagai paket keenam dari banyaknya sanksi yang diberikan kawasan Eropa. Agar sanksi ini sukses, sejumlah negara kini resmi memutus pasokannya dari Gazprom. Diantaranya Jerman selaku negara ekonomi terbesar di Eropa. Pada September lalu memutuskan untuk berhenti mengimpor gas dari Rusia. (Tribun-Video.com/ Tribunnews.com) Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Terdampak Sanksi Barat, Penjualan Mobil di Rusia Anjlok Hingga 58 Persen, 🤍 Penulis: Mikael Dafit Adi Prasetyo Editor: Seno Tri Sulistiyono HOST: BIMA MAULANA VP: IKA VIDYA LESTARI #beritaterbaru #beritaterkini #beritaviral #live #breakingnews #ukraina #rusia #rusiavsukrainahariini #russia #ukraine #russiavsukraine #putin #zelensky

Sebulan Invasi, Tsunami Sanksi Tidak Berarti Bagi Rusia

331526
3723
1116
00:10:33
24.03.2022

Tanggal 24 Maret 2022 ini tepat sebulan invasi pasukan militer Rusia ke Ukraina. Sepanjang hari-hari kelam itu juga, Ukraina babak belur. Banyak negara mengecam dan memberi sanksi kepada Rusia. Diplomasi lintas negara terus dijalin. Namun, bara api belum padam. Rudal dan peluru masih menderu. #hariankompas #invasirusiaukraina = Simak kumpulan video berita Harian Kompas: 🤍 Info langganan harian Kompas & 🤍kompas.id: 🤍 Subscribe Youtube Harian Kompas: 🤍 Ikuti media sosial Harian Kompas - Twitter: 🤍 - Facebook: 🤍 - Instagram: 🤍

Beri Sanksi ke Rusia, AS Diam-diam Impor Pupuknya?

55258
546
508
00:02:02
25.07.2022

Meski memberondong Moskwa dengan berbagai sanksi dan memblokir sejumlah komoditas karena invasi ke Ukraina, AS diduga masih mengimpor produk pupuk dari Rusia. Dugaan ini didasarkan data pelacakan kapal yang menunjukkan bahwa sebuah kapal tanker yang membawa produk pupuk cair dari Rusia akan tiba di AS beberapa hari mendatang. Selengkapnya dalam video berikut. Penulis : Danur Lambang Pristiandaru Penulis Naskah: Anneke Sherina Ramadhani Video Editor: Ivan Khabibu Rochman Narator: Anneke Sherina Ramadhani Produser: Naufal Noorosa Ragadini Song: Serenity Lucjo #ASRusia #PupukRusia #SanksiRusia #JernihkanHarapan

Tegas! Putin soal Dampak Sanksi Ekonomi pada Rusia: Kami Tidak Akan Menyerah

17695
136
29
00:01:34
19.07.2022

JAKARTA, KOMPAS TV - Presiden Rusia Vladimir Putin tegaskan misinya memperbaiki kondisi ekonomi negara. Hal tersebut menyikapi sanksi ekonomi yang menggerus Rusia akibat invasi ke Ukraina. Putin menyebut bahwa Rusia tak akan menyerah pada keadaan. Ia pun mengatakan saat ini ekonomi Rusia sedang pulih. Baca Juga Tak Percaya Putin Sakit dan Akan Dibunuh, Petinggi Militer Inggris Sebut Itu Hanya Angan-Angan di 🤍 "Kami tidak akan menyerah, merasa kehilangan atau,seperti yang diprediksi oleh beberapa simpatisan kami, mundur beberapa dekade." ujar Putin. Putin menyebut bahwa Rusia fokus pada solusi-solusi baru untuk memulihkan perekonomian negara. Rusia akan menggunakan cadangan teknologi dalam negeri, dan berdaulat atas hal tersebut. "Sebaliknya, menyadari tumpukan besar kesulitan yang kami hadapi, kami akan secara intensif dan kompeten mencari solusi baru, secara efektif menggunakan cadangan teknologi berdaulat yang ada dan mengembangkan perusahaan inovatif dalam negeri." lanjut Putin. Dalam kesempatan yang sama, Putin menyebut bahwa Rusia tidak akan sepenuhnya terputus dari negara-negara di dunia. Rusia sendiri lakukan invasi militer ke Ukraina sejak Ferbuari lalu. Atas tindakannya, kelompok-kelompok negara lain berikan sanksi ekonomi pada Rusia. Video Editor: Febi Ramdani Artikel ini bisa dilihat di : 🤍

Sanksi Barat Masih Berlanjut, 400.000 Ton Pupuk Rusia Ditahan Di Sejumlah Pelabuhan Eropa

46766
258
218
00:01:24
24.11.2022

Tonton video lainnya di 🤍 Ketua Komisi Produksi dan Perdagangan Pupuk Mineral dari Persatuan Industrialis dan Pengusaha Rusia, Dmitry Mazepin menyebut lebih dari 400.000 ton pupuk yang diproduksi Rusia ditahan di pelabuhan Eropa karena sanksi. Menurut Presiden Rusia, Vladimir Putin hal itu merupakan hambatan buatan yang diciptakan oleh beberapa negara untuk ekspor pupuk Rusia. Hal ini menurutnya akan berdampak negatif terhadap pasar global. Saat ini, pihak berwenang Rusia sedang melakukan kontak dengan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dan para pemimpin dari beberapa negara Afrika sebagai upaya untuk menyingkirkan hambatan tersebut. Simak selengkapnya dalam video berikut. Penulis Naskah: Putri Aulia Narator: Putri Aulia Video Editor: Abdul Azis Produser: Rose Komala Dewi Musik: Traversing - Godmode #JernihkanHarapan #rusia #PBB - Tonton video lainnya di 🤍

Seberapa Efektif Sanksi yang Dijatuhkan Barat kepada Rusia?

7122
134
20
00:03:28
08.06.2022

Beragam sanksi dilontarkan Barat untuk menghentikan invasi Rusia ke Ukraina. Namun Rusia tak juga mengentikan agresinya ke Ukraina. Lalu cara apa yang dapat membuat Rusia berhenti menginvasi Ukraina? Video #DWBusiness "Seberapa efektif sanksi yang dijatuhkan Barat kepada Rusia?” ini kami turunkan sebagai video khusus di kanal YouTube DW Indonesia berkenaan dengan invasi Rusia ke Ukraina. #InvasiRusiaUkraina #SanksiRusia Suka dengan video ini? Ayo berlangganan: 🤍 Informasi lainnya dari DW Indonesia: Instagram: 🤍 Facebook: 🤍 Twitter: 🤍 Website: 🤍 Inovator: 🤍 Tertarik ingin berdiskusi tentang topik iptek di grup inovator? Gabung di 🤍

Tidak Ada Negara yang Kebal Terhadap Dampak Sanksi AS kepada Rusia

75855
616
343
00:02:40
21.06.2022

Beberapa putaran sanksi yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat dan sekutu Baratnya terhadap Rusia sejak pecahnya krisis Ukraina telah memperburuk kekurangan pasokan yang disebabkan oleh epidemi Covid-19 dan menghambat pemulihan ekonomi global. Kepala Ekonom di Departemen Riset Ekonomi dari Daichi Life Research Institute, Hideo Kumano, berkomentar terkait berbagai sanksi yang dijatuhkan oleh banyak negara, termasuk Amerika Serikat, Inggris, negara-negara anggota Uni Eropa dan Jepang, telah secara ekstensif merugikan rantai industri dan pasokan global, sementara itu tidak ada negara yang kebal terhadap dampaknya. Penulis Naskah: Annisa Nurmaulia Al Fajri Narator: Annisa Nurmaulia Al Fajri Video Editor: Agung Setiawan Produser: Agung Wisnugroho #SanksiRusia #RusiavsUkraina #AmerikaSerikat #EkonomiDuniaHancur #JernihkanHarapan

Uni Eropa Susun Paket Sanksi Ke-8 untuk Rusia

6542
77
226
00:02:02
30.09.2022

Uni Eropa kembali menyusun beberapa sanksi terhadap Rusia. Ketua Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan, sanksi tersebut merupakan paket sanksi kedelapan yang ditujukan untuk Rusia. Hal ini imbas dari referendum palsu dan aneksasi yang dilakukan di wilayah Ukraina yang telah diduduki Rusia, seperti di Zaporizhzhia, Kherson, Luhansk, dan Donetsk. Negara-negara Barat pun menolak referendum dan aneksasi tersebut. Hal tersebut dinilai sebagai kepura-puraan dan upaya ilegal untuk merebut wilayah Ukraina secara paksa. Simak informasinya dalam video berikut. Penulis Naskah: Anasthasya Video Editor: Anasthasya Produser: Adesari Aviningtyas Musik: Kreuzberg Nights - Futuremono #ReferendumUkraina #Rusia #Ukraina #QuoteofTheDay #JernihkanHarapan

Beragam Sanksi dari Negara Barat untuk Rusia atas Serangannya ke Ukraina

225002
1547
1414
00:03:04
26.02.2022

Menyusul pengumuman mengenai sanksi pada Rusia yang dijatuhkan oleh Inggris dan Uni Eropa (UE) pada Jumat (25/2/2022), Amerika Serikat (AS) juga akan menjatuhkan sanksi serupa kepada Presiden Rusia Vladimir Putin dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov. Bentuk sanksi yang akan dijatuhkan oleh AS akan memukul beberapa sektor penting seperti keuangan, energi, transportasi, hingga larangan bepergian. Menanggapi hal tersebut, Putin mengatakan bahwa negara-negara yang menjatuhkan sanksi menunjukkan impotensi dari Barat dan memepringatkan bahwa hubungannya tidak akan berakhir baik. Simak selengkapnya dalam video berikut. Penulis: Irawan Sapto Adhi Penulis Naskah: Chrisstella Efivania Rosaline Narator: Chrisstella Efivania Rosaline Video Editor: Chrisstella Efivania Rosaline Produser: Ira Gita Natalia #SuaraKompas #JernihkanHarapan

Warga Rusia Mulai Terdampak Sanksi Ekonomi Negara Barat

42658
323
477
00:02:39
24.05.2022

Saat Presiden Rusia, Vladimir Putin mengumumkan, operasi militer ke Ukraina tiga bulan lalu, warga Rusia sepertinya tidak terkena dampaknya. Namun kini sektor ekonomi Rusia terpengaruh akibat beragam sanksi yang dijatuhkan pemerintah negara-negara Barat.

Dampak Sanksi Barat Mulai Dirasakan Warga Rusia

71798
886
474
00:02:10
04.06.2022

Ketika operasi militer Rusia di Ukraina memasuki hari ke-100, kehidupan banyak orang Rusia juga mengalami perubahan secara signifikan. Awalnya, operasi militer tampak jauh dari wilayah Rusia. Namun, dalam beberapa hari terakhir, dampak mulai dirasakan oleh banyak warga biasa dalam bentuk sanksi yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tak terduga oleh pemerintah Barat. Dengan banyaknya perusahaan asing dan internasional menarik bisnis mereka dari Rusia, puluhan ribu pekerjaan yang dulu aman kini tiba-tiba dipertanyakan. Simak selengkapnya dalam video berikut. Penulis Naskah: Meiva Jufarani Narator: Meiva Jufarani Video Editor: Menika Ambar Sari Produser: Yusuf Reza Permadi #WargaRusia #DampakPerang #JernihkanHarapan

Dukung Zelensky, Swiss Ancam Sita Aset Rusia yang Dibekukan, Bisa Biayai Rekonstruksi Ukraina

73730
480
1127
00:02:42
21.01.2023

TRIBUN-VIDEO.COM - Di tengah perang yang makin panas, Swiss menyatakan dukungannya ke Ukraina. Aset-aset Rusia yang telah dibekukan Swiss terancam disita. Hasil sitaan itu disebutkan bisa membiayai rekonstruksi Ukraina. Hal tersebut diungkapkan oleh Menteri Luar Negeri Swiss Ignazio Cassis pada Jumat (21/1/2023). Swiss telah membekukan aset senilai 7,5 miliar franc Swiss ($8,2 miliar) dari warga negara Rusia yang terkena sanksi. Menurut Cassis, aset yang dibekukan itu tidak dapat disita berdasarkan undang-undang saat ini. Untuk mengubah undang-undang itu agar dapat disita  membutuhkan referendum. Ia mengatakan, jika serius membantu membangun kembali Ukraina, maka diperlukan memikirkan bagaimana cara membiayainya. Oleh karena itu, perlu adanya revisi undang-undang untuk bisa menyita aset-aset Rusia demi rekonstruksi Ukraina. Diketahui, Swiss sendiri bukan negara Uni Eropa. Namun, Swiss bersama Uni Eropa sepakat untuk menjatuhkan sanksi ke Rusia. Pada Agustus 2022, Swiss  membekukan aset milik bank terbesar Rusia Sber dan melarang perdagangan produk emas dengan Moskow. Terkait hal ini, Rusia telah memasukkan Swiss ke dalam daftar negara yang tidak bersahabat. Termasuk anggota UE dan negara lain yang telah menjatuhkan sanksi terhadap Rusia. Di sisi lain, bagi Presiden Rusia, Vladimir Putin, cukup tenang menghadapi sanksi. Ia mengaku memang sanksi Barat diharapkan untuk menghancurkan Rusia. Namun Putin menegaskan, hal tersebut tidak terjadi. Kepala Negara Rusia mengungkapkan, negaranya memiliki margin keamanan yang kuat. "Kami memiliki margin keamanan. Kami telah menjadi contoh bagi negara-negara lain yang memperjuangkan dunia multikutub." jelasnya. Sementara itu, baru-baru ini, Dewan Eropa secara mengejutkan mengakui kesulitan menjatuhkan sanksi ke Rusia. Padahal sebelumnya Uni Eropa terus memberikan paket sanksi ke Rusia bertubi-tubi. Hal ini disampaikan oleh Presiden  Dewan Eropa, Charles Michel. Ia mengaku kesulitan menerapkan sanksi ke Rusia daripada sebelumnya. Diakuinya, keluhan itu dibahas setiap diskusi tentang sanksi terhadap Federasi Rusia belakangan ini. Kini Uni Eropa akan terus mempertimbangkan babak baru sanksi anti-Rusia. (Tribun-Video.com/ RT.com) Artikel ini telah tayang di RT.com dengan judul Switzerland threatens to seize Russian assets 🤍 HOST: BIMA MAULANA VP: YOHANES ANTON #beritaterbaru #beritaterkini #beritaviral #live #breakingnews

Dampak Sanksi Ekonomi Mulai Dirasakan Warga Negara Rusia

61460
498
375
00:05:31
03.03.2022

RUSIA, KOMPAS.TV - Dampak dari sanksi yang diberikan beberapa negara ke Rusia mulai dirasakan masyarakatnya. Warga negara Rusia pun berbondong-bondong mengantre di ATM untuk menarik uang tunai yang mereka miliki. Dampak sanksi ekonomi terhadap Rusia tidak hanya menjatuhkan mata uang Rubel hingga 30%, tetapi juga membuat Bank Sentral Rusia menaikkan suku bunga dari 9,5% menjadi 20%. Kondisi kenaikan suku bunga tersebut, membuat daya beli masyarakat tergerus dan menurunkan nilai tabungan di bank. Pemilik usaha kecil di Rusia pun sudah merasakan kenaikan harga bahan-bahan pangan. Dampak terbaru yang dirasakan warga negara Rusia adalah layanan perbankan dunia yaitu Visa dan MasterCard memblokir beberapa Lembaga Keuangan Rusia dari jaringan mereka. Jangan lewatkan streaming Kompas TV live 24 jam non stop di 🤍 agar kamu semua tidak ketinggalan berita-berita terkini, terlengkap, serta laporan langsung dari berbagai daerah di Indonesia. Subscribe juga channel YouTube Kompas TV dan aktifkan lonceng supaya kamu dapat notifikasi video terbaru langsung. Artikel ini bisa dilihat di : 🤍

Sanksi Ekonomi Rusia, Visa dan Mastercard Blokir Beberapa Lembaga Keuangan Rusia!

112241
830
595
00:02:17
02.03.2022

KOMPAS.TV - Dampak dari sanksi yang diberikan beberapa negara ke Rusia mulai dirasakan masyrakat Rusia. Mereka pun berbondong-bondong mengantre di ATM untuk menarik uang tunai. Dampak sanksi ekonomi terhadap Rusia tak hanya menjatuhkan mata uang Rubel hingga 30%, tapi juga membuat Bank Sentral Rusia menaikkan suku bunga dari 9,5% menjadi 20%. Kondisi ini akhirnya membuat daya beli masyrakat tergerus dan menurunkan nilai tabungan di bank. Pemilik usaha kecil di Rusia pun sudah merasakan kenaikan harga bahan-bahan pangan. Yang teranyar, visa dan mastercard memblokir beberapa lembaga keuangan Rusia dari jaringan mereka. Baca Juga Badan Pusat Statistik Catat Indonesia Mengalami Deflasi 0,02%, Bagaimana Dampaknya?! di 🤍 Artikel ini bisa dilihat di : 🤍

Para Pemimpin Uni Eropa Tunda Sanksi Keenam untuk Rusia

56961
479
231
00:02:26
31.05.2022

Beberapa pemimpin Uni Eropa pada Selasa (31/5/2022) mengakui kekhawatiran Hungaria seputar embargo pada sebagian besar impor minyak Rusia terhadap negara-negara blok tersebut. Sebab sanksi terkait embargo tersebut merupakan bagian dari sanksi baru terhadap Rusia yang berhasil disetujui di pertemuan puncak di Brussels. Larangan itu akan mencakup minyak Rusia yang dibawa melalui laut dan memungkinkan pengecualian sementara untuk impor yang dikirim melalui pipa. Pengecualian ini merupakan langkah yang penting bagi Hongaria. Sebelumnya Uni Eropa telah memberlakukan lima paket sanksi terhadap Rusia atas invasinya ke Ukraina. Namun, paket sanksi keenam yang diumumkan 4 Mei telah ditahan akibat kekhawatiran atas pasokan minyak. Simak selengkapnya dalam video berikut. Penulis Naskah: Novinda Sekar Putri Narator: Novinda Sekar Putri Video Editor: Novinda Sekar Putri Produser: Agung Wisnugroho #MinyakRusia #EmbargoMinyak #UniEropa #JernihkanHarapan

Akibat Sanksi Ekonomi Terhadap Rusia, Warga Kini Terancam Alami Kemerosotan Standar Hidup

138371
1106
985
00:03:12
02.03.2022

TRIBUN-VIDEO.COM - Imbas invasi Rusia, pihak Barat telah memberikan sejumlah sanksi termasuk di bidang ekonomi kepada negara pimpinan Vladimir Putin tersebut. Akibatnya, kini warga Rusia mengeluhkan kesulitan hipotek di Moskow lantaran suku bunga telah dinaikkan. Warga Rusia juga berpotensi menghadapi harga komoditas yang lebih tinggi imbas pembatasan perjalanan ke luar negeri. Dilansir oleh VOA, nilai mata uang Rusia, Rubel kini terus merosot seiring sanksi yang diterapkan ke negara tersebut. Hal ini membuat warga setempat ramai-ramai mengambil uangnya di bank dan ATM. Rubel anjlok hingga 30 persen terhadap dollar AS seusai negara barat membatasi Rusia menggunakan cadangan mata uang asing yang besar. Sementara itu, dikutip dari BBC via Tribunnews, desainer industri asal Rusia, Andrey mengatakan, kondisi ini membuat dirinya berencana pergi ke luar negeri. "Jika saya bisa meninggalkan Rusia sekarang, saya akan melakukannya. Tapi, saya tidak bisa berhenti dari pekerjaan saya," kata Andrey, dikutip dari BBC. Sanksi ekonomi dijatuhkan bertujuan untuk mengisolasi Rusia dan menciptakan resesi. Para pemimpin Barat berharap langkah-langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya akan membawa perubahan dalam pemikiran di Kremlin. Dampak sanksi ekonomi lainnya yakni gangguan pembayaran menggunakan Apple Pay dan Google Pay seusai pemutusan dari Visa dan Mastercard. Hal ini pun membuat warga Rusia tak dapat membayar barang mereka menggunakan kartu atau secara cashless. Juga untuk pembayaran kartu Metro, bus, dan trem. Sejumlah ekonom dan analis mengatakan devaluasi rubel yang tajam berarti penurunan standar hidup rata-rata warga Rusia. Padahal, Rusia masih bergantung pada banyak barang impor. Seperti iPhone dan PlayStations yang kemungkinan akan meroket. Bank sentral Rusia diketahui telah menaikan suku bunga utamanya secara tajam, dari 9,5 persen menjadi 20 persen. Hal ini dilakukan guna menopang nilai rubel dan mencegah pemborosan bank. (Tribun-Video.com) Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Warga Rusia Mulai Rasakan Sanksi Internasional Pasca Putin Lancarkan Invasi ke Ukraina, 🤍 Penulis: Whiesa Daniswara Editor: Pravitri Retno Widyastuti

Biden Ungkap Sanksi Ekonomi untuk Rusia: Ekonomi Rusia Terguncang, Putin Harus Disalahkan

73291
624
764
00:02:00
02.03.2022

JAKARTA, KOMPAS TV - Presiden Amerika Serikat kembali paparkan sanksi ekonomi yang dijatuhkan pada Rusia. Hal tersebut diberikan sebagai dampak dari keputusan Rusia serang Ukraina. Ia menyebut negaranya dan sekutu akan bersama-sama menmotong akses bank terbesar Rusia. "Bersama-sama, bersama dengan sekutu, kami sekarang memberlakukan sanksi ekonomi yang kuat. Kami memotong bank terbesar Rusia dan sistem keuangan internasional," ujar Biden. Baca Juga Asap Membubung Tinggi! Rudal Rusia Hantam Menara Stasiun Televisi di Kiev di 🤍 "(Kami) mencegah bank sentral Rusia mempertahankan rubel Rusia, membuat dana perang Putin senilai $630 miliar menjadi tidak berharga," lanjutnya. Tak hanya akses bank, AS juga memotong akses Rusia terhadap industri teknologi. Kini Biden mengklaim ekonomi Rusia sudah melemah, dan Presiden Rusia Vladimir Putin adalah sebab utama dari hal tersebut. "Rubel telah kehilangan 30 persen nilainya. Pasar saham Rusia telah kehilangan 40 persen nilainya, dan perdagangan tetap ditangguhkan. Ekonomi Rusia terguncang dan hanya Putin yang harus disalahkan." ucap Biden. Video Editor: Androw Parama Artikel ini bisa dilihat di : 🤍

Putin Sebut Sanksi ke Rusia Lebih Menyakiti Barat Dibanding Negaranya Sendiri

167130
1809
342
00:02:29
13.05.2022

TRIBUN-TIMUR.COM - Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengungkapkan bahwa sanksi ke Rusia lebih menyakiti negara-negara Barat dibandingkan negaranya sendiri. Hal itu diungkapkan Putin, Kamis (12/5/2022), saat melakukan pertemuan dengan pemerintahannya. Putin pun menegaskan bahwa Rusia telah begitu tangguh dalam menghadapi tantangan eksternal. Negara-negara Barat telah memberikan sanksi yang belum pernah terjadi sebelumnya ke Rusia, setelah Putin mengirim pasukan ke Ukraina pada 24 Februari lalu. (*) Editor: A. Syahrul Khair Narator: Ririn #tribuntimur #tribunviral #videoviral #tribunvideo (TRIBUN-TIMUR.COM) Catatan Redaksi Tribun Timur: Bersama kita lawan Virus Covid-19. Tribun-timur.com mengajak seluruh pembaca untuk selalu menerapkan protokol kesehatan dalam setiap kegiatan. Ingat pesan 5M (memakai masker, mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, serta membatasi mobilisasi dan interaksi). Ingat SUBSCRIBE, SHARE, and COMMENT. Update info terkini via tribun-timur.com | 🤍 Follow akun Instagram 🤍 Follow akun Twitter 🤍 Follow dan like fanpage Facebook 🤍 YouTube business inquiries: 081347061237

China Disebut Tidak Akan Beri Sanksi Ekonomi kepada Rusia

494263
5793
3223
00:02:21
03.03.2022

China disebut tak akan memberikan sanksi terhadap Rusia. Hal ini disampaikan oleh regulator perbankan China pada Rabu (02/03/2022). Sebelumnya, China juga sempat menolak untuk mengecam tindakan invasi Rusia ke Ukraina. China menilai pemberian sanksi yang dilakukan oleh negara-negara Barat merupakan sanksi ilegal dan sepihak. Simak informasinya dalam video berikut. Penulis: Tito Hilmawan Reditya Penulis Naskah: Anasthasya Narator: Anasthasya Video Editor: Dina Rahmawati Produser: Adisty Safitri #China #Rusia #Ukraina #SuaraKompas #JernihkanHarapan

Kapal Tanker Minyak Rusia Merapat ke Singapura dan Malaysia Menyusul Sanksi Uni Eropa

475146
1147
483
00:01:48
28.10.2022

TRIBUNNEWS.COM - Armada kapal tanker bermuatan minyak Rusia berlabuh di dekat Singapura dan Malaysia menjelang sanksi dari Uni Eropa (UE) yang mulai berlaku awal tahun depan. Rusia mulai mengalihkan arus ekspor minyaknya ke Asia sejak dijatuhi sanksi oleh negara-negara Barat. Sekitar 1,1 juta ton High Sulfur Fuel Oil (HSFO) sedang disimpan di kapal dalam seminggu hingga 24 Oktober, menurut Vortexa Ltd. Meski volume telah sedikit berkurang dari rekor, itu masih lebih dari dua kali lipat tingkat tahun lalu. #beritaterbaru #beritaterkini #beritaviral

Назад
Что ищут прямо сейчас на
SANKSI RUSIA ايش mall road lahore HOME VIDEO 神宿 профессор Пономарева В.В. Shorinji Kempo .45 ACP Rick and Rebecca overlapped айдай исаева коремни преси каксделатьдома raspberry pi nas samba sojo juorma move genshin c6 zhongli 布馬 MBC deezer shiva dissing